Prologue: Difference between revisions
Jump to navigation
Jump to search
no edit summary
No edit summary Tags: Manual revert Reverted |
No edit summary |
||
| (4 intermediate revisions by the same user not shown) | |||
| Line 1: | Line 1: | ||
{{Infobox_Story | {{Infobox_Story | ||
| title = Prologue: Goodbye Earth | | title = Prologue: Goodbye Earth | ||
| image = | | image = Goodbye_earth_pixelated.png | ||
| caption = Bumi yang dilihat melalui kapal luar angkasa Neuron. | | caption = Bumi yang dilihat melalui kapal luar angkasa Neuron. | ||
| year = | | year = 2095 | ||
| setting = Orbit Bima Sakti menuju Luar Angkasa | | setting = Orbit Bima Sakti menuju Luar Angkasa | ||
| status = Berlangsung | | status = Berlangsung | ||
| Line 9: | Line 9: | ||
| population = Sekitar 100 juta jiwa | | population = Sekitar 100 juta jiwa | ||
}} | }} | ||
Tahun 2095. Bumi bukan lagi rumah yang ramah. | |||
Tahun | |||
Langit bumi yang dahulu membentang berwarna biru dengan awan putih, sekarang dipenuhi kabut yang pekat, sisa dari bencana yang merobek jantung bumi. Populasi umat manusia kini hanya bersisa setengah, menjadi kenangan yang menyakitkan, lenyap ditelan kemarahan alam. Bumi, rumah yang dulu terasa begitu luas dan ramah, sekarang terasa sempit dan mengancam, sumber daya sekarat, tanah subur menyusut, udara pun kini terasa berat untuk dihirup, ditengah-tengah keputusasaan, ada harapan yang lahir dari ambisi dan airmata. | Langit bumi yang dahulu membentang berwarna biru dengan awan putih, sekarang dipenuhi kabut yang pekat, sisa dari bencana yang merobek jantung bumi. Populasi umat manusia kini hanya bersisa setengah, menjadi kenangan yang menyakitkan, lenyap ditelan kemarahan alam. Bumi, rumah yang dulu terasa begitu luas dan ramah, sekarang terasa sempit dan mengancam, sumber daya sekarat, tanah subur menyusut, udara pun kini terasa berat untuk dihirup, ditengah-tengah keputusasaan, ada harapan yang lahir dari ambisi dan airmata. | ||