Prologue: Difference between revisions

m (Adding category to story)
No edit summary
 
(8 intermediate revisions by the same user not shown)
Line 1: Line 1:
Tahun 3277. Bumi bukan lagi rumah yang ramah.
{{Infobox_Story
| title      = Prologue: Goodbye Earth
| image      = Goodbye_earth_pixelated.png
| caption    = Bumi yang dilihat melalui kapal luar angkasa Neuron.
| year        = 2095
| setting    = Orbit Bima Sakti menuju Luar Angkasa
| status      = Berlangsung
| mainship    = Neuron
| population  = Sekitar 100 juta jiwa
}}
Tahun 2095. Bumi bukan lagi rumah yang ramah.


Langit bumi yang dahulu membentang berwarna biru dengan awan putih, sekarang dipenuhi kabut yang pekat, sisa dari bencana yang merobek jantung bumi. Populasi umat manusia kini hanya bersisa setengah, menjadi kenangan yang menyakitkan, lenyap ditelan kemarahan alam. Bumi, rumah yang dulu terasa begitu luas dan ramah, sekarang terasa sempit dan mengancam, sumber daya sekarat, tanah subur menyusut, udara pun kini terasa berat untuk dihirup, ditengah-tengah keputusasaan, ada harapan yang lahir dari ambisi dan airmata.
Langit bumi yang dahulu membentang berwarna biru dengan awan putih, sekarang dipenuhi kabut yang pekat, sisa dari bencana yang merobek jantung bumi. Populasi umat manusia kini hanya bersisa setengah, menjadi kenangan yang menyakitkan, lenyap ditelan kemarahan alam. Bumi, rumah yang dulu terasa begitu luas dan ramah, sekarang terasa sempit dan mengancam, sumber daya sekarat, tanah subur menyusut, udara pun kini terasa berat untuk dihirup, ditengah-tengah keputusasaan, ada harapan yang lahir dari ambisi dan airmata.

Latest revision as of 09:06, 28 September 2025

Prologue: Goodbye Earth
Bumi yang dilihat melalui kapal luar angkasa Neuron.
Tahun 2095
Latar Orbit Bima Sakti menuju Luar Angkasa
Kapal Neuron
Populasi Sekitar 100 juta jiwa
Status Berlangsung

Tahun 2095. Bumi bukan lagi rumah yang ramah.

Langit bumi yang dahulu membentang berwarna biru dengan awan putih, sekarang dipenuhi kabut yang pekat, sisa dari bencana yang merobek jantung bumi. Populasi umat manusia kini hanya bersisa setengah, menjadi kenangan yang menyakitkan, lenyap ditelan kemarahan alam. Bumi, rumah yang dulu terasa begitu luas dan ramah, sekarang terasa sempit dan mengancam, sumber daya sekarat, tanah subur menyusut, udara pun kini terasa berat untuk dihirup, ditengah-tengah keputusasaan, ada harapan yang lahir dari ambisi dan airmata.

PROJECT SPACEWALK

Sebuah kapal luar angkasa raksasa bernama Neuron sebuah bahtera modern yang dirancang untuk membawa sisa-sisa peradaban menuju bintang -bintang. Dibuat dengan sisa sumber daya yang tersisa. Bertahun-tahun pembangunan yang melelahkan, diwarnai dengan pengorbanan serta harapan. Kini saatnya telah tiba, pintu kapal luar angkasa Neuron terbuka, mengundang seluruh mahkluk hidup yang tersisa untuk memulai perjalanan untuk mencari planet yang layak huni.

Di balik jendela kapal yang disaksikan para manusia, Bumi tampak bagai kenangan yang tidak pernah terlupakan, air mata mengalir, mengingat masa lalu yang hilang tenggelam. Saat Neuron perlahan menjauh dari orbit Bumi, meninggalkan jejak cahaya redup di kegelapan, sebuah babak baru dimulai. Perjalanan panjang melintasi kosmik, menuju bintang yang belum dikenal, berharap untuk menemukan rumah baru. Tetapi, di balik masa depan itu, banyak tantangan yang harus dihadapi. Ruang angkasa yang sangat luas dan juga misterius menyimpan bahaya yang tak terbayangkan. Di dalam lambung kapal yang megah ini, seratus juta jiwa membawa serta harapan, impian, dan juga potensi konflik.

Selamat datang di Neuron. Selamat datang di kehidupan baru umat manusia.